Ini Bukan Masalah Intoleransi Apalagi Tindak Kejahatan

Saya adalah seorang guru. Sudah lebih 16 tahun saya mengajar, sampai saat ini. Yang saya didik adalah anak-anak usia SMP sampai SLTA. Usia pancaroba, peralihan dari kanak-kanak ke remaja menuju dewasa. Dan saat ini, bersama rekan para pendidik, kami mengelola lembaga pendidikan dengan hampir 2000 peserta didik, dari TK sampai sekolah tinggi. Tidaklah mudah pekerjaan menjadi seorang guru itu. Apalagi untuk generasi millenial saat ini. Perkembangan zaman dan teknologi informasi telah membuat mereka memiliki karakter tersendiri. Guru harus mempersiapkan diri lebih maksimal lagi dalam mendidik dan menghadapi mereka. Sebagai seorang guru, saya harus menyiapkan bahan ajar. Mengevaluasi capaian pembelajaran, membuat soal ujian dan memeriksa hasilnya. Memberikan nilai dan mengulangi anak yang belum tuntas. Disamping itu, setiap kali hadir dan tampil di depan kelas, mesti ada nilai dan karakter yang harus saya tanamkan kepada mereka. Itu semua saya lakukan sampai saat ini, walaupun saya juga Wa...

Sebenarnya Jadi Keturunan PKI Bukan Dosa

Tadi malam di acara ILC, akhirnya terbuka sebuah rahasia. Ada kader Partai yang merasa paling NKRI, eh... ternyata cucu pentolan PKI. 

Juamputt....

Tapi ya itu, faktanya Partai itu emang isinya banyak keturunan PKI. 

Sebenarnya jadi Keturunan PKI bukan dosa. Karena anak tidak seharusnya menanggung dosa orang tua. Masalahnya, kalau sampai ada keturunan PKI lainnya menulis buku "Aku Bangga jadi Anak PKI", ya ini lain cerita.

Sebenarnya perjalanan sejarah juga bisa jadi cermin.  Ayah ketua Partai itu dulunya emang sangat dekat dan mesra dengan tokoh-tokoh PKI. Orang itu bahkan sampai menggagas Konsep Politik Nasakom alias Nasionalisme-Agama-Komunisme.

Dikalangan ex PKI, si Ayah memang dianggap Pelindung dan Penyelamat. Mereka sangat memuja dan mendewakannya. Sebut saja daerah-daerah yang dulu jadi basis dan kantong suara PKI, pasti suara Partai Anaknya menguasai. 

Sekali lagi faktanya sekarang keturunan para PKI berkumpul di satu Gerbong yang sama. Kalau kemudian Gerbong tersebut juga diam-diam mau merubah Pancasila dengan berusaha "menghilangkan" atau paling tidak membuat tidak penting sila Ketuhanan, ya bisa dipahami. Karena pada dasarnya mereka memang tidak percaya Tuhan. Tidak percaya akhirat. Tanya saja Ketua Umumnya...

Masalahnya, apa wajar Gerbong mereka yang dalam tanda kutip banyak berisi kumpulan keturunan Pengkhianat atau pernah berkhianat kepada NKRI merasa mewakili kelompok Nasional?
  • Nasionalis kok keturunan Pengkhianat...?
  • Nasionalis kok jualin asset bangsa...? 
  • Nasionalis kok selalu memecah-belah anak bangsa...?
  • Nasionalis kok kadernya paling banyak korupsi...?
Satu lagi, coba deh diingat-ingat. Nasionalisme seperti apa yang bisa kita harapkan dari sebuah Partai yang dua kali anggota dewan pusat-nya bersuamikan warga negara asing?

Apa tidak ada kadernya yang benar-benar pasangan suami-istri nasionalis?

Terus apa ngga berbahaya dan membahayakan kepentingan Negara kalau ada anggota DPR RI kita bersuami atau beristrikan Warga Negara Asing? Bisa bocor rahasia-rahasia Negara, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja.

Tolong dong dibuat Undang-undang yang melarang Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintah bersuamikan/beristri Warga Negara Asing !!! (By :Azwar Siregar via facebook)

Komentar

Postingan populer dari blog ini