Postingan

Menampilkan postingan dengan label sumbar

Ini Bukan Masalah Intoleransi Apalagi Tindak Kejahatan

Saya adalah seorang guru. Sudah lebih 16 tahun saya mengajar, sampai saat ini. Yang saya didik adalah anak-anak usia SMP sampai SLTA. Usia pancaroba, peralihan dari kanak-kanak ke remaja menuju dewasa. Dan saat ini, bersama rekan para pendidik, kami mengelola lembaga pendidikan dengan hampir 2000 peserta didik, dari TK sampai sekolah tinggi. Tidaklah mudah pekerjaan menjadi seorang guru itu. Apalagi untuk generasi millenial saat ini. Perkembangan zaman dan teknologi informasi telah membuat mereka memiliki karakter tersendiri. Guru harus mempersiapkan diri lebih maksimal lagi dalam mendidik dan menghadapi mereka. Sebagai seorang guru, saya harus menyiapkan bahan ajar. Mengevaluasi capaian pembelajaran, membuat soal ujian dan memeriksa hasilnya. Memberikan nilai dan mengulangi anak yang belum tuntas. Disamping itu, setiap kali hadir dan tampil di depan kelas, mesti ada nilai dan karakter yang harus saya tanamkan kepada mereka. Itu semua saya lakukan sampai saat ini, walaupun saya juga Wa...

Inilah Sebetulnya Tujuan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) 1958

Inilah 3 ( tiga ) Tujuan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) 1958 Mengkritik Presiden Soekarno Agar mematuhi konstitusi dan Menjauhkan diri dari Pengaruh Komunis Sebelum kabinet PRRI dibentuk, PRRI yang telah membentuk Dewan Perjuangan sebenarnya sempat mengeluarkan pernyataan berupa “Piagam Jakarta” pada 10 Februari 1958. Dimana penyataan tersebut berisikan beberapa tuntutan yang ditujukan kepada Presiden Soekarno, beberapa tuntunan tersebut diantaranya adalah: Mendesak Kabinet Djuanda untuk mengundurkan diri, dan juga mengembalikan mandat nya kembali kepada Presiden Soekarno. Mendesak pejabat presiden yaitu Mr. Sartono untuk membentuk suatu kabinet gres, dimana bebas dari pengaruh PKI dan bernama Zaken Kabinet Nasional. Mendesak kabinet Zaken untuk diberikan manda secara sepenuhnya untuk bekerja hingga pemilihan umum yang akan dilaksanakan. Mendesak Presiden Soekarno juga untuk membatasi kekuasaannya dan juga mematuhi konstitusi yang diberlakukan. Apabila tuntutan ter...

Kato Nan Ampek Urang Minang

Seketika forum ILC menjadi hening, ketika Tuan Guru Ustad Abdul Somad begitu bernas dan santun menguraikan bagaimana peran masyarakat Sumatera Barat untuk Republik Indonesia dari kacamata beliau sebagai orang Melayu. Tak pelak lagi, kualitas keilmuannya memang tiada banding, literasinya sungguh tiada tanding, dan akhlaknya dalam berbicara benar-benar bikin bergeming. UAS tahu benar bagaimana menempatkan diri dalam kapasitasnya sebagai ‘orang luar’ di tengah tokoh-tokoh Minang yang hadir. Ia menalar dengan logika dan literatur tak terbantahkan. Tak hanya di studio TV One tempat forum itu dilaksanakan, hening dan kagum yang sama juga terjadi pada mereka yang menonton di rumah-rumah dan lapau-lapau kopi di seluruh sudut nagari Sumbar, yang dipadati orang-orang bak menonton piala dunia. Singkat kata, beliau semalam menjadi bintang. Tak cuma UAS, banyak juga wawasan baru yang diperoleh dari narasumber lainnya, Hasril Chaniago misalnya, tokoh pers Sumbar itu bagai kitab hidup yang mengupas s...

PDIP Bak Penyakit Menular Yang Harus Dihindari

Tak cukup hanya mengenakan masker. Apapun bentuknya, hubungan, afiliasi, bahkan hanya “bau-bau” PDIP harus dijauhi. Cut off. Tak ada hubungan apapun! PKB yang semula bersama PDIP mendukung pasangan Mulyadi-Ali Mukhni mengambil langkah seribu. Mereka mencabut dukungan dan mengalihkan ke pasangan cagub yang lain. PKB  tak mau tertular virus.   Terkena penyakit menular bernama PDIP. Risikonya berat dan tidak sebanding. Paling dramatis  justru langkah yang diambil oleh Mulyadi-Ali Mukhni. Tanpa ba-bi-bu, mereka mengembalikan mandat PDIP.  Jadilah pasangan ini tinggal diusung oleh Partai Demokrat dan PAN. Meninggalkan PDIP sepi sendiri. Tak ada pilihan lain bagi PDIP.  Menarik diri dari gelanggang perebutan kursi gubernur-wagub. Tak ada cagub, dan partai politik yang mau dekat, apalagi bersekutu dengan PDIP. Untuk mengusung calon sendiri,  tidak mungkin. Kursi PDIP di DPRD Sumbar hanya seuprit. Tiga kursi tidak memenuhi syarat.  “Melihat dinamika seper...

Orang Minang Dimata Puan Maharani

Nasi sudah menjadi bubur. Tak perlulah diolah-olah lagi supaya kembali menjadi nasi. Percuma. Di mata Puan, orang Minang tidak menerapkan Pancasila.   Itulah thesis asli Puan Maharani tentang orang Minang yang selama ini kosisten menolak PDIP. Itulah pandangan Puan. Begitulah yang ada di pikiran dia. Jadi, tidak perlu diusahakan untuk memoles-moles ucapan asli itu.   Puan mengatakan, “…Semoga Sumbar mendukung negara Pancasila.” Mau ditafsirkan oleh ahli bahasa mana pun, kalimat ini mengandung arti tunggal bahwa orang Minang tidak berpancasila.   Untuk apalagi dilurus-luruskan. Ditafsir-tafsirkan. Memang itulah yang dimaksudkan Puan.   Dan harap diingat. Puan mengucapkan itu dalam konteks yang khusus. Yaitu, ketika dia memberikan sambutan melepas para calon kepala daerah dari PDIP untuk pilkada 2020 di Sumatera Barat (Sumbar). Dari sini, sangat ‘valid’ disimpulkan bahwa, bagi Puan, hanya orang PDIP-lah yang memahami dan menerapkan Pancasila. Orang lain tidak.   P...

Mаѕіh іngаt PRRI ?

Mаѕіh іngаt PRRI ? Kala Aсhmаd Huѕеіn! mеnсаbut tаndа раngkаtnуа dі halaman gubеrnurаn Sumbar di Pаdаng ѕеkаrаng, sejarah рun dіmulаі.  Sааt іtu 1958 dan bertahun-tahun kеmudіаn Ranah Minang gеlар оlеh nаѕіb buruknya.  Sаkіng buruknуа nаmа аnаkрun dіbuаt ѕеhеbаt mungkіn аgаr hilang bau Mіnаngnуа. Tаkut. PRRI dіѕеbut реrіѕtіwа, ada yang bіlаng реmbеrоntаkаn. Pаrа ѕеjаrаwаn meluruskannya, “kоrеkѕіаn” раdа реmеrіntаh рuѕаt уаng sudah condong kе kiri.  Singkat cerita, tentara рuѕаt mаѕuk untuk memadamkan реmbеrоntаkkаn іtu. Sеnjаtа menyalak dаrі dаrаt laut dan udаrа. Anаk nеgеrі ijok ke rіmbа raya.  Adаlаh Brigjen TNI (pur) DR Sjaafroedin Bаhаr dalam bukunya Etnik, Elite dаn Integrasi Nаѕіоnаl;Mіnаngkаbаu 1945 -1984, Rерublіk Indоnеѕіа 1985 – 2015 diterbitkan Grе Publіѕhіng Yogyakarta 2015, yang bеrkіѕаh soal penumpasan PRRI.  Pеnumраѕаn PRRI dіѕеbut Oреrаѕі 17 Aguѕtuѕ. Tentara yang dіkіrіm kе Sumbаr tеrdіrі dаrі tіgа gоlоngаn.  Pеrtаmа para реrwіrа уаng bеrtug...

Reputasi PDIP di Sumatera Barat

Kekalahan demi kekalahan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Sumatera Barat (Sumbar) dalam beberapa kontestasi pemilihan umum belakangan ini bukan semata disebabkan karena faktor ideologi seperti agama ataupun Pancasila, tapi disebabkan karena sejarah masa lalu yang digores oleh Presiden pertama Indonesia Sukarno di tanah Minang tersebut, kata Budayawan Minang Edy Utama. Presiden Sukarno memerintahkan operasi militer di Sumbar dalam menumpas pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada akhir tahun 1950-an. Pengerahan kekuatan militer itu menjadi awal perpecahaan yang menimbulkan luka dan trauma mendalam di masyarakat Sumbar kepada Sukarno yang berimplikasi kepada PDIP, representasi dari Sukarno, tambah Edy. Padahal sebelum PRRI terjadi, sejarawan dari Universitas Andalas Israr Iskandar menyebut, hubungan masyarakat Minang dengan Sukarno sangat erat, seperti bersama Mohammad Hatta memimpin Indonesia, dan bekerja sama dengan pahlawan nasional asal...

Perjalanan Pilihan Politik Masyarakat Minang

Sebelum peristiwa PRRI, seperti pada Pemilu 1955, dukungan politik masyarakat Minang sangat dinamis, dan beragam ujar Edy. "Bahkan PKI dapat posisi ketiga setelah Masyumi dan Partai Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), dan itu mengalahkan Partai Murba yang didirikan orang Minangkabau sendiri [Tan Malaka], dan PSI yang didirikan Sutan Sjahrir," kata Edy. Namun, setelah peristiwa PRRI dan memasuki Orde Baru, sejarawan dari Universitas Andalas Israr Iskandar mengatakan pilihan politik masyarakat Minang menjadi lebih terpola, yaitu menarik dukungan pada partai yang terkait dengan Sukarno dan menjatuhkan pilihan pada Partai Golkar. "Golkar menjadi pilihan karena merasa bisa menyelamatkan mereka, anti komunis dan berorientasi pada pembangunan. Sumbar waktu itu habis terpuruk karena PRRI. Jadi makanya [Golkar] menang sampai tujuh kali pemilu, walaupun cukup banyak juga rekayasa politiknya," kata Israr. Masuk ke era reformasi, dukungan masyarakat Minang masih mengalir p...

Postingan populer dari blog ini

Contoh Pidato Minangkabau (I)

Minangkabau Sudah Lama Melakukan Sertifikasi Ulama

Serba Serbi PKI di Ranah Minangkabau