Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sejarah

Ini Bukan Masalah Intoleransi Apalagi Tindak Kejahatan

Saya adalah seorang guru. Sudah lebih 16 tahun saya mengajar, sampai saat ini. Yang saya didik adalah anak-anak usia SMP sampai SLTA. Usia pancaroba, peralihan dari kanak-kanak ke remaja menuju dewasa. Dan saat ini, bersama rekan para pendidik, kami mengelola lembaga pendidikan dengan hampir 2000 peserta didik, dari TK sampai sekolah tinggi. Tidaklah mudah pekerjaan menjadi seorang guru itu. Apalagi untuk generasi millenial saat ini. Perkembangan zaman dan teknologi informasi telah membuat mereka memiliki karakter tersendiri. Guru harus mempersiapkan diri lebih maksimal lagi dalam mendidik dan menghadapi mereka. Sebagai seorang guru, saya harus menyiapkan bahan ajar. Mengevaluasi capaian pembelajaran, membuat soal ujian dan memeriksa hasilnya. Memberikan nilai dan mengulangi anak yang belum tuntas. Disamping itu, setiap kali hadir dan tampil di depan kelas, mesti ada nilai dan karakter yang harus saya tanamkan kepada mereka. Itu semua saya lakukan sampai saat ini, walaupun saya juga Wa...

Minangkabau Sudah Pancasilais sebelum Kemerdekaan RI

Siang itu, Juni 1942, ada sesuatu yang berubah pada diri Soekarno. Ia tampil lebih elegan. Peci hitamnya yang semula pendek berubah bentuk menjadi lebih tinggi. Rupanya, itulah peci baru hadiah dari Syekh Abbas Abdullah. Kenang-kenangan yang diberikan  Syekh Abbas di Jorong  Padang Japang, Kecamatan Guguk, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat, sebelum kemerdekaan Indonesia. "Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam," kata Syekh Abbas, seperti dituturkan Kepala Desa Padang Japang, Harmaini, 61 tahun, kepada Gatra. Syekh Abbas adalah penerus Darul Funun El Abbassyiah (DFA), pondok pesantren tebesar  dan pelopor pembaruan di Sumatera Tengah. Waktu itu, peci merupakan indentitas kaum muslim. "Umat akan mendu kung kamu, selama kamu tidak memisahkan agama dan pemerintah. Kamu juga harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa kita," kata Syekh Abbas, seraya menatap Bung Karno yang masih mem...

Cara Orang Minang Menghadapi Orang China

Kota Pariaman, Sumatera Barat sudah puluhan tahun tidak ada satu pun, orang China atau ChinKut (China Keturunan) yang diperbolehkan tinggal di Kota tersebut, kalau pun ada yang coba - coba masuk, pasti diusir bersama - bersama. sampai saat ini.. Di Kota Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh mereka ada, tapi hanya beberapa Keluarga, dan rata - rata usaha jualan Kue, jualan sendal, loundri, tukang jam..wl mereka punya usaha, mereka tetap wajib mengikuti aturan masyarakat sekitar, tanpa kecuali. Di Kota Padang, walau banyak, tapi mereka tidak pernah diberikan keleluasaan karena pengusaha - pengusaha dan saudagar Minang sendiri lebih lawas dan pintar dari mereka. Di ranah minang Ketua Adat, menempatkan mrk sebagai " orang menumpang" dan mereka dilarang membeli tanah -tanah adat / kaum / sawah / ladang, khusus untuak luhak nan tuo(kab.Tanah Datar dkstrnya) mereka tidak boleh sejengkalpun memiliki tanah. Tahukah apa penyebab aturan itu??... ..Karena: Nenek moyang orang Minang, te...

Inilah Asal Usul Nama Minangkabau Yang Sebenarnya

Sultan Pagaruyung, Muhammmad Taufik sebut cerita Adu kerbau merupakan cerita bohong. Hal tersebut berlandaskan logika dan sejarah asal usul nama Minangkabau sebenarnya yang berasal dari bahasa Arab. Dari hasil wawancara Harianhaluan.com dengan Sultan Taufik, Kamis (13/7), bahwa cerita peristiwa adu kerbau adalah karangan orang belanda yang hanya ingin mengadu domba orang Minang dengan orang Jawa. Pasalnya dalam cerita tersebut seolah-olah menggambarkan kelicikan orang Minangkabau dan kebodohan orang Jawa. "Bohong. Ini merupakan politik Belanda dalan mengadu domba kita dengan orang Jawa pada masa itu," ujarnya. Ia juga melanjutkan, bahwa secara logika dan akal sehat alur cerita tersebut tidak masuk akal. Pasalnya, tidak mungkin anak kerbau memintak susu kepada kerbau jantan yang sedangkan dari baunya saja sudah berbeda. Sedangkan Allah menciptakan hewan dengan insting yang sangat baik. "Hewan mempunyai insting yang bagus, yang lebih dari pada manusia," ujarnya l...

Merantau adalah Sebuah Tradisi di Minangkabau

Merantau adalah perginya seseorang dari tempat asal dimana ia ia tumbuh besar ke wilayah lain untuk menjalani kehidupan atau mencari pengalaman. Merantau merupakan salah satu budaya Minangkabau yang membuat orang minang hidup diberbagai belahan dunia dan menjadi sukses dalam segi kehidupan, baik sebagai pedagang,cendikiawan,pegawai pemerintahaan ataupun ulama. Banyak faktor yang mendorong orang-orang untuk pergi dari tempat asal atau kelahirannya menuju tempat lain. Diantaranya faktor tradisi atau budaya dari suatu kelompok etnis, juga ada faktor ekonomi, pendidikan dan faktor peperangan. Ramainya Bandar Malaka pada abad 15 dan 16 mengakibatkan Malaka jadi tujuan perantauan dari bermacam etnis di Nusantara. Sampai saat ini keturunan dari para perantau itu masih teridentifikasi dengan jelas. Di Malaka dan sekitarnya bahkan di wilayah lainnya di Malaysia bisa ditemukan komunitas keturunan Minangkabau, Jawa, Banjar, Bawean (di Malaka lazim disebut orang Boyan) dan etnis-etnis lainnya dari...

Benarkah Orang Minang Keturunan Yahudi?

Asal-usul minangkabau menurut Tambo Alam Minangkabau Tiga anak dari Raja Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung) dari Makadunia (Macedonia) yaitu Maharajo Alif, Maharajo Depang dan Maharajo Dirajo berlayar bersama, dan saat dalam perjalanan mereka bertengkar sehingga mahkota kerajaan jatuh ke dalam laut. Maharajo Dirajo yang membawa Cati Bilang Pandai –seorang pandai emas- berhasil membuat satu serupa dengan mahkota yang hilang itu. Mahkota itu lalu ia serahkan kepada abang-abangnya, tetapi mereka mengembalikannya kepada Maharajo Dirajo karena ia dianggap yang paling berhak menerima, karena telah berhasil menemukannya. Mereka adik beradik lalu berpisah. Maharajo Alif meneruskan perjalanan ke Barat dan menjadi Raja di Bizantium, sedang Maharajo Depang ke Timur lalu menjadi menjadi Raja di China dan Jepang (Jepun), manakala Maharajo Dirajo ke Selatan sedang perahunya terkandas di puncak Gunung Merapi saat Banjir Nabi Nuh melanda. Begitu banjir surut, dari puncak gunung Merapi yang diyakini...

Inilah Sebetulnya Tujuan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) 1958

Inilah 3 ( tiga ) Tujuan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) 1958 Mengkritik Presiden Soekarno Agar mematuhi konstitusi dan Menjauhkan diri dari Pengaruh Komunis Sebelum kabinet PRRI dibentuk, PRRI yang telah membentuk Dewan Perjuangan sebenarnya sempat mengeluarkan pernyataan berupa “Piagam Jakarta” pada 10 Februari 1958. Dimana penyataan tersebut berisikan beberapa tuntutan yang ditujukan kepada Presiden Soekarno, beberapa tuntunan tersebut diantaranya adalah: Mendesak Kabinet Djuanda untuk mengundurkan diri, dan juga mengembalikan mandat nya kembali kepada Presiden Soekarno. Mendesak pejabat presiden yaitu Mr. Sartono untuk membentuk suatu kabinet gres, dimana bebas dari pengaruh PKI dan bernama Zaken Kabinet Nasional. Mendesak kabinet Zaken untuk diberikan manda secara sepenuhnya untuk bekerja hingga pemilihan umum yang akan dilaksanakan. Mendesak Presiden Soekarno juga untuk membatasi kekuasaannya dan juga mematuhi konstitusi yang diberlakukan. Apabila tuntutan ter...

PKI dan Perjalanan Sejarah Komunisme di Ranah Minang

Karakteristik masyarakat Minangkabau yang terbuka dalam perbedaan pandangan, tentu bukanlah sebagai bentuk liberalisme. Minang punya petuah, "alue jo patuik dan barih jo balabeh" (alur dengan patut dan baris dengan belebas). Sehingga perbedaan pandangan tidak akan keluar dari bingkai keminangan itu sendiri. Kaedah adat yang populer, "baralieh tagak di tanah nan sabingka, bakisa duduak di lapiek nan sahalai" (beralih berdiri, tetap di tanah yang sebingkah. Bergeser duduk, tetap di tikar yang sehelai), menjadi frame bagaimana perbedaan tersebut tetap terkawal dengan nilai-nilai yang menjadi kesepakatan di Ranah Minang. Kesepakatan itu adalah: Adaik Basandi Syara' - Syara' Basandi Kitabullah - Adaik Bapaneh Syara' Balinduang - Syara' Mangato Adaik Mamakai (ABS-SBK-ABSB-SMAM) ! Nah, dalam alur demikianlah hendaknya kita melihat keberadaan PKI dan perjalanan sejarah komunisme di Ranah Minang. Kehadiran komunisme yang dibawa oleh Dt. Batuah di Padang Panja...

Antara Adat dan Hukum Adat di Minangkabau

Pengertian adat minangkabau sering dicampuradukan dengan pengertian hukum adat  Minangkabau. Keberadaan hukum adat, khususnya hukum adat Minangkau, sangat penting dan diakui, tetapi dalam perkembangannya ada kecenderungan pemahaman terhadap hukum adat kian “menipis” di masyarakat. Bahkan dalam masyarakat dimana hukum adat itu hidup dan berkembang.  Kondisi yang sama tidak terkecuali di alami adat dan hukum adat Minangkabau. Adanya banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa hal itu terjadi dan bahkan tidak jarang masyarakat tidak lagi bisa membedakan antara adat dan hukum adat. Terhadap adat itu sendiri banyak pengertian yang dikemukakan para ahli.  Satu antaranya bahwa adat adalah tingkah laku yang oleh dan dalam suatu masyarakat ( sudah , sedang, akan ) diadatkan.  Sementara itu adat dipandang juga sebagai kebiasaan normatif yang dipertahankan oleh masyarakat, walaupun tidak terus terulang, pada saat-saat tertentu akan berulang dan harus dilaksanakan, apabila tidak...

Kato Nan Ampek Urang Minang

Seketika forum ILC menjadi hening, ketika Tuan Guru Ustad Abdul Somad begitu bernas dan santun menguraikan bagaimana peran masyarakat Sumatera Barat untuk Republik Indonesia dari kacamata beliau sebagai orang Melayu. Tak pelak lagi, kualitas keilmuannya memang tiada banding, literasinya sungguh tiada tanding, dan akhlaknya dalam berbicara benar-benar bikin bergeming. UAS tahu benar bagaimana menempatkan diri dalam kapasitasnya sebagai ‘orang luar’ di tengah tokoh-tokoh Minang yang hadir. Ia menalar dengan logika dan literatur tak terbantahkan. Tak hanya di studio TV One tempat forum itu dilaksanakan, hening dan kagum yang sama juga terjadi pada mereka yang menonton di rumah-rumah dan lapau-lapau kopi di seluruh sudut nagari Sumbar, yang dipadati orang-orang bak menonton piala dunia. Singkat kata, beliau semalam menjadi bintang. Tak cuma UAS, banyak juga wawasan baru yang diperoleh dari narasumber lainnya, Hasril Chaniago misalnya, tokoh pers Sumbar itu bagai kitab hidup yang mengupas s...

Raja Sulaeman Adalah Ulama Minangkabau Pendiri Kota Manila

Mungkin banyak dari kamu semua yang belum tahu mengenai sejarah berdirinya kota Manila di negara Filipina. Ternyata nama kota Manila itu berasal bahasa Arab yakni ‘fi amanillah’ yang berarti ‘dibawah lindungan Allah’. Kala itu negara Filipina masih menganut pemerintahan Islam. Berdasarkan sejarah, sebelum negara Filipina menjadi negara republik, ternyata dahulunya negara Filipina adalah sebuah kepulauan rumpun Melayu, yang pada zaman dahulu dijadikan tempat singgahnya para pedagang muslim dan ulama asal India, India Timur dan Gujarat. Konon pulau pertama yang disinggahi pertama kali adalah Kepulauan Sulu atau lebih dikenal Kesultanan Sulu. Seperti diketahui, Kesultanan Sulu sangat kental dengan nuansa keturunan Suku Minangkabau, dahulu kala diyakini banyak dari orang-orang minang yang melakukan pola migrasi atau merantau ke Kesultanan Sulu (Kepulauan Sulu). Bukan hanya itu saja, para sejarahwan pun mengklaim, bahwa jejak-jejak pendiri cikal-bakal kota Manila atau Kesultanan Sulu pada z...

Sebenarnya Jadi Keturunan PKI Bukan Dosa

Tadi malam di acara ILC, akhirnya terbuka sebuah rahasia. Ada kader Partai yang merasa paling NKRI, eh... ternyata cucu pentolan PKI.  Juamputt.... Tapi ya itu, faktanya Partai itu emang isinya banyak keturunan PKI.  Sebenarnya jadi Keturunan PKI bukan dosa. Karena anak tidak seharusnya menanggung dosa orang tua. Masalahnya, kalau sampai ada keturunan PKI lainnya menulis buku "Aku Bangga jadi Anak PKI", ya ini lain cerita. Sebenarnya perjalanan sejarah juga bisa jadi cermin.  Ayah ketua Partai itu dulunya emang sangat dekat dan mesra dengan tokoh-tokoh PKI. Orang itu bahkan sampai menggagas Konsep Politik Nasakom alias Nasionalisme-Agama-Komunisme. Dikalangan ex PKI, si Ayah memang dianggap Pelindung dan Penyelamat. Mereka sangat memuja dan mendewakannya. Sebut saja daerah-daerah yang dulu jadi basis dan kantong suara PKI, pasti suara Partai Anaknya menguasai.  Sekali lagi faktanya sekarang keturunan para PKI berkumpul di satu Gerbong yang sama. Kalau kemudian Gerbon...

Maaf Itu Bagaikan "basiang ateh nan tumbuah"

ILC tidak membahas tentang konsep kearifan Minangkabau dalam memahami kata-kata sehingga tidak terungkap alasan hakiki kenapa masyarakat Sumbar dan orang Minang di ranah dan di rantau menjadi tersinggung dan terluka. Jejak historis Minangkabau dalam sejarah bangsa bukanlah bantahan yang hanya patut dijawab dengan "ya". Karena semua itu dikemukakan bukan untuk bernostalgia tapi dari sanalah aliran darah perjuangan bangsa dan agama. Kalau orang berakal mendengarkannya, kesadarannya tentu akan kembali dan tak perlu terkalang lidah mengakui "saya lupa dan saya berdosa". Menyebutkan PKI di Ranah Minang bukanlah kebanggaan karena goresan tinta emas sejarah "ranah bunda" dan bukan pula bagian dari kayu yang bersilang dalam tungku perapian yang membuat api menyala. Faktanya, sampai sekarang mendenging telinga putra-putri Minang bila terkesan jejak PKI dalam keluarganya. Entahlah kalau di dengar oleh orang buta sejarah dan kehilangan rasa jo periksa. Menyuruk di ba...

Terima Kasih PUAN MAHARANI

Akibat dari statementmu yang 'asa balantong' (asal mangap) yang mungkin memang di dasari sempitnya ilmu, rendahnya akhlak dan perasaan yang arogan karena partainya partai berkuasa. Dan juga mungkin ditambah rasa hasad, menuduh masyarakat Sumbar seakan-akan bukan pendukung Pancasila, menyebabkan orang-orang menggali kembali kenangan yang hampir terlupa, sejarah yang mulai tenggelam akan peran Sumatra Barat di jaman penjajahan dan awal-awal kemerdekaan. Semakin di telusuri semakin terlihat rekam jejak peran orang Sumbar untuk negeri ini. Peran berat yang dilandasi kecintaan terhadap negeri ini. Sebuah sumbangsih yang mungkin tak dipahami oleh seorang Puan. 📷 Kurang bagaimana lagi bantuan harta kami untuk tegaknya negara ini di awal kemerdekaan  Ketika terjadi Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, ibu kota negara dipindahkan ke Bukittinggi, Sumatra Barat. Membuat Bung Hatta berkantor di sini selama 7 bulan. Untuk membuka blokade dari Belanda, Bung Hatta memutuskan membel...

Mаѕіh іngаt PRRI ?

Mаѕіh іngаt PRRI ? Kala Aсhmаd Huѕеіn! mеnсаbut tаndа раngkаtnуа dі halaman gubеrnurаn Sumbar di Pаdаng ѕеkаrаng, sejarah рun dіmulаі.  Sааt іtu 1958 dan bertahun-tahun kеmudіаn Ranah Minang gеlар оlеh nаѕіb buruknya.  Sаkіng buruknуа nаmа аnаkрun dіbuаt ѕеhеbаt mungkіn аgаr hilang bau Mіnаngnуа. Tаkut. PRRI dіѕеbut реrіѕtіwа, ada yang bіlаng реmbеrоntаkаn. Pаrа ѕеjаrаwаn meluruskannya, “kоrеkѕіаn” раdа реmеrіntаh рuѕаt уаng sudah condong kе kiri.  Singkat cerita, tentara рuѕаt mаѕuk untuk memadamkan реmbеrоntаkkаn іtu. Sеnjаtа menyalak dаrі dаrаt laut dan udаrа. Anаk nеgеrі ijok ke rіmbа raya.  Adаlаh Brigjen TNI (pur) DR Sjaafroedin Bаhаr dalam bukunya Etnik, Elite dаn Integrasi Nаѕіоnаl;Mіnаngkаbаu 1945 -1984, Rерublіk Indоnеѕіа 1985 – 2015 diterbitkan Grе Publіѕhіng Yogyakarta 2015, yang bеrkіѕаh soal penumpasan PRRI.  Pеnumраѕаn PRRI dіѕеbut Oреrаѕі 17 Aguѕtuѕ. Tentara yang dіkіrіm kе Sumbаr tеrdіrі dаrі tіgа gоlоngаn.  Pеrtаmа para реrwіrа уаng bеrtug...

Postingan populer dari blog ini

Contoh Pidato Minangkabau (I)

Minangkabau Sudah Lama Melakukan Sertifikasi Ulama

Serba Serbi PKI di Ranah Minangkabau