Postingan

Menampilkan postingan dengan label Indonesia

Ini Bukan Masalah Intoleransi Apalagi Tindak Kejahatan

Saya adalah seorang guru. Sudah lebih 16 tahun saya mengajar, sampai saat ini. Yang saya didik adalah anak-anak usia SMP sampai SLTA. Usia pancaroba, peralihan dari kanak-kanak ke remaja menuju dewasa. Dan saat ini, bersama rekan para pendidik, kami mengelola lembaga pendidikan dengan hampir 2000 peserta didik, dari TK sampai sekolah tinggi. Tidaklah mudah pekerjaan menjadi seorang guru itu. Apalagi untuk generasi millenial saat ini. Perkembangan zaman dan teknologi informasi telah membuat mereka memiliki karakter tersendiri. Guru harus mempersiapkan diri lebih maksimal lagi dalam mendidik dan menghadapi mereka. Sebagai seorang guru, saya harus menyiapkan bahan ajar. Mengevaluasi capaian pembelajaran, membuat soal ujian dan memeriksa hasilnya. Memberikan nilai dan mengulangi anak yang belum tuntas. Disamping itu, setiap kali hadir dan tampil di depan kelas, mesti ada nilai dan karakter yang harus saya tanamkan kepada mereka. Itu semua saya lakukan sampai saat ini, walaupun saya juga Wa...

Asal Nama Negeri Sembilan

Masyarakat Negeri Sembilan merupakan perantau asal Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia yang telah tiba sejak abad ke-14. Kemudian masyarakat yang bermukim pada sembilan negeri seperti Johol, Jelebu, Klang, Sungei Ujong, Naning, Rembau, Jelai, Segamat dan Pasir Besar membentuk persekutuan yang disebut lembaga dan dinamakan Negeri Sembilan. Selanjutnya sebagai penyatuan masyarakat maka diangkatlah seorang raja yang pada awalnya mereka minta dari Yang Dipertuan Pagar Ruyung. Penduduk Asal Negeri Sembilan pada asalnya didiami oleh orang-orang asli yang terdiri daripada suku kaum Semelai, Semai dan Jakun. Mereka hidup berpindah randah, memburu, mengutip hasil hutan dan ada yang mula bertani. Sejarah Hijrahnya Orang Minangkabau  Pada awal abad ke-14, orang-orang Sumatera dari Tanah Minangkabau mula tiba ke Negeri Sembilan melalui Melaka dan sampai ke Rembau. Orang Minangkabau ini lebih bertamadun berbanding Orang Asli dan berjaya memujuk hati orang Asli.  Dengan itu berlakulah pe...

PRRI Adalah Sikap Jantan Orang Minang

PRRI adalah sikap jantan orang Minang, menegur pemerintah pusat yang melenceng. Tak ada lagi sikap “bagak” seperti itu sesudahnya. Yang ada hanya demo-demi ikat kepala. Bahkan ada dibayar pula. Tokoh sentral gerakan koreksi itu tak lain Achmad Husein bekas komandan Batalyon Harimau Kuranji. Ketika ia meninggal ribuan orang mengantarkannya ke makam Pahlawan Kuranji. Jika anda kini melalui depan kantor PLN di Sawahan, sebelah kanan ada rumah bertembok kokoh. Disitulah rumah Achmad Husein. Apakah PRRI itu pemberontakan atau hanya sikap protes atau dua-duanya? Apapun, permintaan PRRI antara lain otonomi yang lebih luas, ternyata jadi ikon oleh pemerintah setelah reformasi. Betapa lambatnya Jakarta membaca dan betapa cepatnya orang Minang berpikir. Setelah soal PKI yang membonceng penumpasan PRRI sekarang prokabar.om menurunkan kisah lain soal gerakan tersebut. Medio 1958, Laksmana John Lie memborbardir dari kapal perang, di laut dekat Muara. Di Tabing Paratroop meringsek. Kota Padang sepi,...

Kebencian Soekarno Terhadap Ulama Besar Minangkabau

Buya Hamka (Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah) merupakan salah satu tokoh yang pernah diperlakukan Soekarno sebagai musuh besarnya. Kebencian Soekarno terhadap ulama besar asal Minangkabau itu tidak tanggung-tanggung. Presiden pertama Indonesia itu melakukan fitnah sangat keji dan menjebloskan Hamka ke penjara tanpa proses pengadilan. Dikutip dari Republika.co.id, meski dizalimi dan dihinakan Soekarno, dikurung di jeruji besi selama dua tahun empat bulan, Buya Hamka tidak pernah menyimpan dendam terhadap Soekarno. Anak kelima Buya Hamka, Irfan Hamka, dalam buku Ayah menceritakan bagaimana ayahnya bersikap terhadap rezim Soekarno. Dalam suatu acara yang digelar Dewan Kesenian Jakarta pada 1969, Buya Hamka memaparkan dua hal, pertama pelarangan peredaran buku-buku Pramoedya Ananta Toer, dan kedua bagaimana sikapnya terhadap Pramoedya yang menjadi penyebab Hamka dipenjara. Buya Hamka, tulis Irfan Hamka, tidak pernah menyetujui pelarangan tersebut, karena filsafat hidup Buya Hamka adalah ...

Dasar Negara Indonesia Adalah Tauhid

Dasar negara REPUBLIK INDONESIA justru adalah TAUHIID! Tauhiid adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.  Lihat isi pasal 29 ayat 1, UUD 1945! ==> "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa." Yang Ketuhanan Yang Maha Esa ini juga jelas ada di Pancasila! Serta di Pembukaan UUD 1945 dan Piagam Jakarta! Dan di antara yang merumuskan Pancasila sampai sedemikian itu adalah banyak urang awak Minang:  Muhammad Yamin, Mohammad Hatta, Muhammad Natsir, Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, dkk.! Dan masyarakat Minangkabau SEJAK DULU SEBELUM INDONESIA ADA, sudah bersemboyan: "Adaik basandikan Syara'. Syara' basandikan Kitabulloh." "Adat harus bersendikan Syari'ah. Syari'ah bersendikan Kitabulloh (Al Qur'aan)."     Yang Syari'ah dan Al Qur'aan itu adalah prinsip terdasar dari Ketuhanan Yang Maha Esa!  Alias: Tauhiid, tersebut! Sejak awal jaman!  Karena dalam Islaam ada 124.000 nabi dan rosul sejak awal jaman! Dan bisa dikatakan 100% kaum Minang adala...

Postingan populer dari blog ini

PRRI Adalah Sikap Jantan Orang Minang

Contoh Pidato Minangkabau (I)

Minangkabau Sudah Lama Melakukan Sertifikasi Ulama