Ini Bukan Masalah Intoleransi Apalagi Tindak Kejahatan

Saya adalah seorang guru. Sudah lebih 16 tahun saya mengajar, sampai saat ini. Yang saya didik adalah anak-anak usia SMP sampai SLTA. Usia pancaroba, peralihan dari kanak-kanak ke remaja menuju dewasa. Dan saat ini, bersama rekan para pendidik, kami mengelola lembaga pendidikan dengan hampir 2000 peserta didik, dari TK sampai sekolah tinggi. Tidaklah mudah pekerjaan menjadi seorang guru itu. Apalagi untuk generasi millenial saat ini. Perkembangan zaman dan teknologi informasi telah membuat mereka memiliki karakter tersendiri. Guru harus mempersiapkan diri lebih maksimal lagi dalam mendidik dan menghadapi mereka. Sebagai seorang guru, saya harus menyiapkan bahan ajar. Mengevaluasi capaian pembelajaran, membuat soal ujian dan memeriksa hasilnya. Memberikan nilai dan mengulangi anak yang belum tuntas. Disamping itu, setiap kali hadir dan tampil di depan kelas, mesti ada nilai dan karakter yang harus saya tanamkan kepada mereka. Itu semua saya lakukan sampai saat ini, walaupun saya juga Wa...

Terima Kasih PUAN MAHARANI

Akibat dari statementmu yang 'asa balantong' (asal mangap) yang mungkin memang di dasari sempitnya ilmu, rendahnya akhlak dan perasaan yang arogan karena partainya partai berkuasa. Dan juga mungkin ditambah rasa hasad, menuduh masyarakat Sumbar seakan-akan bukan pendukung Pancasila, menyebabkan orang-orang menggali kembali kenangan yang hampir terlupa, sejarah yang mulai tenggelam akan peran Sumatra Barat di jaman penjajahan dan awal-awal kemerdekaan.

Semakin di telusuri semakin terlihat rekam jejak peran orang Sumbar untuk negeri ini. Peran berat yang dilandasi kecintaan terhadap negeri ini. Sebuah sumbangsih yang mungkin tak dipahami oleh seorang Puan.

📷 Kurang bagaimana lagi bantuan harta kami untuk tegaknya negara ini di awal kemerdekaan 

Ketika terjadi Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, ibu kota negara dipindahkan ke Bukittinggi, Sumatra Barat. Membuat Bung Hatta berkantor di sini selama 7 bulan.

Untuk membuka blokade dari Belanda, Bung Hatta memutuskan membeli pesawat untuk menyalurkan bantuan dan persenjataan kepada daerah yang di blokade.

Sebagai upaya membeli pesawat, maka dibentuklah Panitia Pusat Pengumpul Emas oleh Mohammad Hatta di Bukittinggi pada tanggal 27 September 1947.

Para ibu di Bukittingi juga dari Padang, dengan sukarela memberikan emas mereka sehingga terkumpullah emas sebanyak 14 kg. Dengan emas ini terbelilah 2 buah pesawat Avro Anson yang kemudian diberi nama RI-003 dan RI-004. Pesawat RI-003 diterbangkan oleh komodor udara Halim Perdakusumah dan jatuh di Tanjung Hantu Malaysia. Sedang RI-004 diterbangkan oleh pilot Sudaryono. Dan pesawat ini hancur ketika Lapangan Terbang Maguwo diserang oleh Belanda pada akhir 1948 dalam Agresi Militer II di Yogyakarta.

📷 Kurang bagaimana lagi sumbangan pemikiran dan tenaga dari putra terbaik kami di awal kemerdekaan?
  • Muhammad Hatta (proklamator dan wakil Presiden 1).
  • Soetan Sjahrir (Perdana Menteri Republik Indonesia pertama).
  • Mr Mohammad Jamin (salah satu perumus Pancasila pada sidang BPUPKI 29 Mei - 1 Juni 1945)
  • Haji Agoes Salim (Menteri Luar Negeri Pertama RI dan peletak dasar politik luar negeri Indonesia)
  • Mr Sjafroeddin Prawiranegara (memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia ketika Agresi Militer Belanda).
  • Moehammad Natsir (dengan Mosi Integral nya NKRI kembali bersatu setelah hampir terpecah jadi Republik Indonesia Serikat akibat Konferensi Meja Bundar).
  • Dan sungguh banyak lainnya.
Belum lagi pejuang wanitanya. Berjuang lewat keahlian masing-masing melawan penjajah Belanda.
  • Siti Manggopoh (berperang melawan Belanda di medan pertempuran 1881-1965)
  • Rohana Kudus (wartawan lerempuan pertama di Indonesia 1884-1972)
  • Rahma El Yunusyyiah (tokoh pendidikan 1900-1969)
  • Rasuna Said (pejuang perempuan 1910-1965)
📷 Kurang Pancasila bagaimana lagi kami?

Sila mana yang tak kami amalkan?

📷 Sila 1 ketuhanan yang Maha Esa?

Kami religius. Filosofi kami Adat bersendikan Syariah dan Syariah bersendikan Kitabullah (adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah). Nafas kami Ketuhanan yang Maha Esa.

📷 Sila ke 2, Kemanusiaaan yabg adil dan beradab?

Kami hidup dengan semangat keadilan "Barek samo di pikua ringan samo di jinjiang". Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Dan kami memegang adab "kato nan ampek" (kata yang empat) yaitu kato mandaki, kato manurun, kato malereang, kato mandata.

Kato mandaki (kata mendaki) digunakan untuk berbicara dengan orang tua atau yang lebih tua.
Kato manurun (kata menurun) digunakan untuk berbicara ke yang lebih kecil.

Kato malereang (kata miring) digunakan untuk berbicara dengan orang yang dituakan atau dihormati seperti ketua adat, orang pemerintahan dan lain-lain.

Kato mandata (kata mendatar) digunakan untuk berbicara dengan teman sejawat atau seusia.

📷 Sila ke 3, Persatuan Indonesia?

Di Sumatera Barat suasana sangat damai dan tentram. Pendatang diterima dengan baik. Tak pernah ada persekusi terhadap pendatang, apapun sukunya, agamanya atau rasnya.

Dan ketika orang Minang merantau, mereka sangat pandai membaur. Karena kami berprinsip "Dimana bumi diinjak, di situ langit dijunjung".

📷 Sila ke 4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan?

Sebelum Indonesia merdeka, sifat ini sudah berurat berakar dalam diri kami. Karena kami berprinsip:

"Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mupakaik". (Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat).

Bermusyawarah untuk mencapai mufakat sudah kami terapkan dari jaman nenek moyang kami.

📷 Sila ke 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Prinsip keadilan sosial ini sudah turun temurun kami praktekkan:

"Mandapek sama balabo, kahilangan samo marugi, maukua samo panjang, mambilai samo laweh, baragiah samo banyak, manimbang samo barek”.

(Mendapat sama berlaba, kehilangan sama merugi, mengukur sama panjang, menyambung sama lebar, berbagi sama banyak, menimbang sama berat).

Kurang Pancasila bagaimana lagi kami Puan?

Sekali lagi, terima kasih Puan, karena lisan anda yang tak terjaga, nilai luhur adat kami, perjuangan putra terbaik daerah kami, dan sumbangsih daerah kami untuk tegaknya negeri ini semakin diketahui seantero Indonesia.

Banyaklah belajar Puan. Dan belajarlah mengendalikan lisan. Agar tak lagi kau asal tuduh dan menyakiti hati rakyat banyak. (by : Nopi WarMan via facebook)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya Jadi Keturunan PKI Bukan Dosa